Dec 25, 2008

PEMBELAJARAN SENI MELALUI SENI LUKIS ANAK


“… sinaosa sonya, linambaran kareb / padang tanpa mowo / kandel nora pusaka waja / pituduh sapadaning jalma / ceta tanpa kaseret / wela-wela sanadyan rakacarita / delengen / anak-anak berpelepah pisang, bersandal tanah / berbalut angin berselimut kareb / berilmu matahari dan bintang, tuk menjaga senyum sang bunda. Ibu… Lihat gambarku… (Asa Suarassani) … Murid gurune pribadi / Guru muride pribadi / Pamulange, sengsarane / Ganjarane, ayu lan arume sesame (Sosrokartono)

PRELUDE
Warna pelangi, biru cerah, dan hijau segar mendominasi bidang gambar, seolah sebagai setting obyek. Latar belakang cerah mendominasi kebanyakan karya anak-anak. Warna merah dan warna lain cerah memperkuat kesan tegas, dinamis dan bersemangat. Ada sosok anak menggendong ayam, membersihkan telapak tangan dengan air dan berlatar belakang kamar kecil (WC). Warna cerah – garis tebal dan bloking bidang beraneka warna berkombinasi torehan kuat, memperjelas gambaran tentang sesuatu yang dipahami sebagai ‘tema’.

Seni lukis karya anak menampakkan perkembangan menarik sekaligus menghantarkan fenomena, prospek dan hambatan dalam p r o s e s pembelajaran anak-anak di sekolah hingga kehidupan guru seni rupa. Selain munculnya keluasan jagad interpretative, seni rupa membentang permasalahan rumit, spesifik dan absurditas. Mengapa demikian? Sebab di antaranya adalah proses pembelajaran pendidikan seni lukis bagi anak-anak sekolah dasar belum memiliki kebebasan sesuai harapan anak-anak.


Upaya pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa telah termaktub dalam UUD 1945, bidang kebudayaan menjembatani pemaknaan sekolah sebagai pusat kebudayaan. Namun demikian, guru sekolah dasar dengan segala potensi dan kekurangannya menangkap pendidikan seni rupa, belum dimiliki secara maksimal sebagai kebutuhan mendasar aspek kognitif, afektif dan psikomotorik di sekolah. Selain belum proporsinya proses pembelajaran, Guru Sekolah dasar berada dalam perkembangan, tuntutan dan perubahan secara global.

Mulut kita jadi kelu, dan terkunci karena sesuatu yang tidak terduga. Mata kita bisa salah lihat. Otak kita blank ketika dihadapkan pada rumus-rumus dan obyek mekanis, cyber optic, dan visual ilusif yang mengasingkan memori kita. Janma tan kena kinira kinaya apa. Kita sering dihadapkan peristiwa-peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan di layar gelas. Anak-anak kehilangan kiblat akibat kerusuhan. Remaja kehilangan kendali akibat pergaulan, orang-orang tua loyo akibat beban ekonomi dan terjajah. Masih banyak lagi peristiwa di jalan, di sekolah, di pasar hingga rumah. Benarkah “Anak yang hidup dalam keluarga penuh caci maki”, akan jadi anak yang penuh kritik?. Guru terus terpatri filosofi digugu lan ditiru. Persoalannya kemudian, “Bagaimana jika anak-anak mogok melukis”, akibat perintah dan diperintah secara terprogram?

ILUSTRASI
“Tak ada rotan, akarpun berguna” barangkali kata pepatah yang tepat untuk memprovokasi kreatif dalam proses Pembelajaran Seni Lukis untuk Guru SD se Jawa Tengah saat ini. Meskipun tidak berbengkal pendidikan seni, kadya dalang ora kentekan lakon, kegiatan “proses” pembelajaran seni lukis tetap berjalan. Oleh karena itu, karena luasnya cakupan seni lukis, secara padat sebagai solusi awal, kita cermati ilustrasi dibawah ini untuk mewacanakan seni lukis karya anak-anak.

PERTAMA : Gambar anak-anak, adalah gambaran dunia anak-anak. Bukan orang dewasa yang sedang menggambar. Anak-anak adalah manusia yang sedang tumbuh ke arah remaja dan dewasa. Kekarebane berjalan seiring dengan pertumbuhan jasmani dan jiwanya. Anak-anak dalam konteks ini adalah anak usia TK berusia 3-5 tahun. Oleh karena itu, untuk berapresiasi gambar anak-anak, seyogyanya tidak terlepas dari ilmu jiwa anak. Mengapa demikian? Sebab di antaranya adalah dunia anak-anak tidak sama dengan dunia orang remaja atau orang dewasa. Dengan demikian gambar anak-anak tidak bisa diperbandingkan dengan gambar orang remaja atau orang dewasa.

Anak-anak ketika menggambar, merupakan reaksi batin, dan bersifat spontan tanpa bertujuan melahirkan karya seni secara konseptual. Gambar anak-anak lebih terdorong oleh suasana bermain , dan bersifat instingtif sehingga dalam prosesnya selalu berubah-ubah tidak menentu, lugas, naïf dan tidak ajeg sesuai jiwanya yang sedang bergerak tumbuh bersama lingkungannya. Tidak mengherankan jika, lantai dalam ruang rumah tangga penuh gambar anak, tidak beraturan memenuhi ujung lantai. Kemudian tanpa merasa bersalah, anak mengambil (kapur, pensil, arang atau pastel) mewarnai dinding mulus sehabis dicat oleh sanga Ayah. Tidak puas mewarnai dinding, berlari di tempat lain, kemudian nggambari meja, sofa, kasur, pintu, jendela, dinding pagar dan bidang lain yang ia sukai.

Anak-anak pada saat menggambar, terlihat gembira, ceria, energik dan atraktif. Kecenderungan lain, ketika ia menggoreskan warna, secara spontan menyuarakan suara pesawat terbang ketika menggambarkan pesawat terbang. Menirukan suara burung ketika sedang menggambar burungdan mobil ketika menggambar mobil. Bersuara piano, ketika menggambar piano. Anak terlihat asyik, serius, tidak terganggu suasana dan enjoy ketika sedang bersama ayahnya di sawah, di atas kasur ketika ibu dan ayahnya sedang santai di dalam kamar.

KEDUA : Gambar anak, seringkali disalahkan oleh orang dewasa. Ketika anak-anak sedang menggambar bunga berwarna biru. Dinding rumahberwarna merah. Sosok/figure orang berkaki lima/enam. Wajah berwarna merah. Kepala orang lebih besar dari tubuhnya. Kepala tanpa mulut, tangan memanjang dengan jari tiga atau satu dan hingga ke posisi kertas. Sederetan kata-kata menyalahkan si anak berulang kali, baik di rumah, sekolah dan tempat lain di mana si anak sedang menggambar.

KETIGA : Ketika anak usia SD memenangi lomba melukis, di tempat “A” dari gambar sosok orang berkepala besar, garis-garis tebal, bunga warna merah, langit jingga merah; ketika anak tersebut mengikuti lomba di tempat “B”, si anak dilarang merubah bentuk-bentuk yang serupa ketika memenangkan lomba. Bahkan, ketika anak akan merubahnya, baik bentuk dan warnanya, si pengantar anak (bisa kedua orang tuanya) mengancam, marah, dan melontarkan sederetan katayang tidak nyaman ditelinga anak. Bahkan, ketika gambar yang dibuat si anak menyerupai ketika menjadi juara, pada saat lomba di tempat “B” tidak keluar sebagai juara, orang tua si anak protes kepada panitia dan juri, dengan argumentasi bahwa si anak pernah juara lomba di tempat “A” dan sebagainya. Termasuk anak-anak yang di driil oleh orang dewasa (guru sanggar, sekolah, orang tua) sebelum mengikuti lomba lukis. Kegiatan menggambar atau melukis, merupakan salah satu kegiatan yang dianggap penting oleh para ahli pendidikan sebagai kegiatan untuk mengekspresikan diri bagi anak-anak. Semua anak menyukai menggambar, dengan kegiatan corat-coret dilantai, dinding dan kertas. Tidak ada anak yang suka menggambar (Tabrani, 2002). Sejalan dengan kondisi itu, jika ada anak yang tidak suka menggambar, ini merupakan anomaly (Rohidi, 2000). Benarkah penyebab aktivitas dan pengembangan profesi guru seni rupa bersebab belum adanya keberanian melangkah, hingga penyebab-penyebab lain, seperti jam mengajar yang kurang dan motivasi pride competitive rendah?
KEBERANIAN
Keberanian dalam konteks jejaring seni rupa merupakan kata kunci untuk mengawali langkah menciptakan komunitas dan akses dalam berkesenian. Keberanian merupakan kata sifat atau kemampuan sederhana yang harus dimiliki oleh siapapun. Keberanian adalah awal menutup keraguan, memagar keniscayaan dan penuntun dari ketidaktahuan dan ”ketakutan”. Bukankah dalam cerita pewayangan tergambarkar, bagaimana ”air perwitasari” menjadi pijakan, menjadi titik pandang, menjadi sonyaning rubedo, ketika Brotoseno njegur ing samodra. ”Tirta Rip kang Tirta Ning”. Keberanian merupakan sifat dasar yang harus dimiliki setiap orang yang ingin bertumbuh, berlari menuju masa depan. Keberanian merupakan dorongan atau semangat satu-satunya kebijakan yang abadi. Persoalannya sekarang, keberanian seperti apa untuk menciptakan jejaring dan akses di bidang seni rupa?

Semakin tinggi pohon menjulang, banyak angin menerpa. Keberanian memasuki ketidakpastian menyebabkan kecemasan, tetapi ketidakberanian memasuki ketidakpastian akan menyebabkan hilangnya jati diri... dan dalam pengertian yang paling dalam, keberanian menajarkan kepada kita, ”yen wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani”, meskipun pertumbuhannya tidaklah semudah tumbuhan yang menejar sinar matahari. Sebagai spirit dan motivasi untuk menangkap sak dhuwure langit isih ana langit. Keberanian memulai adalah bagian paling penting dari pekerjaan. Ampun myar-miyur ... ayo berkarya bersama anak-anak! ”Tidak ada yang salah dalam seni lukis, yang ada hanya suka atau tidak suka”. Terlalu dipikir-pikir, biasane malah ora nggarap apa-apa.

Pembelajaran seni lukis anak, prospek dan problematikanya, terpulang kepada para guru dan anak itu sendiri. Arepo diterangke sedina ping sewu, kalau motivasi, kareb, niat dan ketekunan guru rendah, hasil kurang maksimal. Diantara cara termudah, anak diberi kepercayaan untuk melukis, tanpa intervensi, baik saat berkarya maupun saat mengikuti lomba seni lukis. Dengan pembiasaan seperti itu, anak akan memiliki kepercayaan diri.
(Suhartono, dalam katalog ”Sehat Ada di Tangan Kita” – Pameran karya para nomine Lomba Seni Lukis Anak se Jawa Tengah ”SANITASI 2008” – Galeri Seni Rupa Dewan Kesenian Jawa Tengah 28-30 Oktober 2008))


No comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar disini, yang sopan ya ! :)